Langsung ke konten utama

Seorang Bocah Pejuang

Inginku sederhana, Ayah.
Tak merepotkanmu
Tak memberatkanmu
Tak merengek minta ini itu kepadamu.

Aku hanya ingin merasakan
Bagaimana rasanya makan bakso bareng dan nyari udang bareng, bersamamu.
Itu saja.

Ayah.
Pulang.

- Febri, Bocah Pejuang. yang tinggal dan dibesarkan dari kecil oleh neneknya seorang. Setiap hari ia bersekolah dan selalu membantu neneknya ketika dirumah, dengan mencari udang dan kepiting lalu dijualnya kepada penyosok. lalu hasil jualnya ia berikan kepada neneknya untuk dibelikan bahan membuat kue untuk dijual. Ibunya hanya seorang pembantu yang bekerja di Jakarta, hanya 3 kali dalam sebulan ia bertemu ibunya. Ayahnya yang katanya bekerja tapi ia tak pernah tahu kabar dan keberadaannya dimana. Selain tak pernah bertemu dengan ayahnya sejak kecil, juga setiap kali ia bertanya kepada neneknya, beliau selalu menjawab tidak tahu. Terakhir kali ayahnya hanya meminta izin kepada neneknya febri untuk merantau, tapi sayang ayahnya tak pernah kembali.


*Selalu bersyukur dengan apa yang telah dimiliki hari ini maupun esok, karna tidak semua orang seberuntung dan senasib sama seperti kita, yang bisa dikatakan berkecukupan. Jangan pernah mengeluh, meski sesekali hati bergejolak ingin ledakan keluh. Jika kita mengeluh, bagaimana febri yang ingin berkeluhpun mungkin tak perlu. yang dia lakukan hanya bisa menitikan air mata ketika menceritakan keinginannya untuk dapat berkumpul bersama kedua orangtuanya dirumah. Sederhana, tapi penuh makna.
Sabar dik, mungkin ini satu dari banyak hal yang akan kamu jadikan cerita motivasi kelak, ketika kau telah sukses. Waktu tak akan hianat kpd kita yang mampu berkhidmat. Semoga hal-hal baik selalu datang untukmu, Febri.

Prangat, 24 Januari 2017. Lagi didepan tipi sambil nonton Bocah Pejuang TransTV dan belom mandi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tentang Keenan dan Someone

Kugy mengajarkanku untuk tidak berkhayal sendirian. Kami bercengkrama satu sama lain, menceritakan pangeran dalam dunia khayal masing-masing. Tentang keenan dan Someone. Kuseduh segelas kopi ditemani beberapa bungkus makroni pedas yang mencoba hadir sebagai orang ketiga diantara ku dan kugy yang sedang asyik bercerita. Bukan untuk memisahkan kita, justru malah membuat malam ini semakin hidup dibuatnya. Semakin malam cerita yang kami kisahkan semakin larut dalam buaian. Tenyata tak disangka-sangka. Ku dan kugy memiliki banyak persamaan; kami sama-sama menyukai lelaki yang dari fisik Ke-BULEK-an (bukan Ke-BULE-an), yang cerdas, artistik, dan penuh kejutan. Keenan suka melukis dan Kunang (Akhirnya aku menemukan nama yang pas) suka menggambar. Kugy yang senang menulis dan Ku yang juga senang menulis. Tapi ada hal berbeda diantara kugy dan keenan dengan ku dan kunang. Kunang juga suka menulis, beda dengan keenan yang hanya senang melukis dan ku yang juga suka menggambar (sa...

Cinta yang Tak Sampai? Aku ingin.

Ini adalah cerpen berjudul "Cinta yang Tak Sampai" yang saya adopsi dan kembangkan dari puisi "Aku Ingin" karya Sapardji Djoko Damono, sekaligus untuk memenuhi tugas harian dalam mata kuliah Menulis Fiksi. “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.   “ Cinta yang Tak Sampai” Di lorong kosong yang lenggang dan sepi. Seorang pemuda berkemeja cokelat sedang duduk menunduk sambil memegang buku di kedua tangannya, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan berfikir bahwa ia mahasiswa yang rajin membaca. Sudah dua jam ia tidak beranjak dari tempat itu. Hingga lalu lalang para mahasiswa, beberapa dosen, dan seekor kucing yang masih tersisa di kampus sore itu tak membuatnya tergubris untuk merasak...